Perjalanan Berhari – Hari Mendaki Puncak Gunung

Hallo Sahabat Petualang. Bagi saya, Traveling tak pernah membosankan. Selalu ada kejutan di segala penjurunya yang tak terbantahkan. Ada kehangatan yang ditawarkan, di tengah dingin yang menusuk badan. Ada alam yang selalu memanggil kembali di antara kabut pagi yang menyelimuti.
Terlahir di Indonesia adalah anugerah, kemanapun tujuanmu berlibur dapat kamu pilih secara acak namun pasti menyajikan keindahan yg mutlak. Seperti saat secara random saya memilih bersantai di Pink Beach Komodo. Negeri ini sudah jelas keindahannya, tapi yang penting adalah attitude kita terhadap alamnya. Harus dijaga! Buang jauh – jauh keinginan untuk buang sampah sembarangan, jika kamu masih mengaku orang Indonesia! Lindungilah laut kita dengan mengurangi sampah plastik sekali pakai.
“Mendaki itu harus membawa peta” ucapan ini selalu digaungkan oleh wak BongkengĀ  karena pendaki yang benar harus memiliki tujuan yg jelas dan menguasai medan. Begitu pula dalam hidup harus punya arah. Hari ini saya memulai perjalanan trekking menuju Annapurna BaseCamp. Bismillah.

Menuju lodge terakhir sebelum menapaki AnnapurnaBaseCamp dini hari. Memasuki ketinggian 3700an mdpl diperlukan asupan air yang teratur, langkah perlahan yang fokus diiringi napas yang tertata agar terhindar dari altitude mountain sickness. Plus tentunya semangat yang tak kalah tinggi dari sang Annapurna.

Alhamdulillah setelah berhari-hari trekking saya berhasil mencapai AnnapurnaBaseCamp yang memiliki ketinggian 4.130m dpl. Menaiki & menuruni bukit, menyebrangi sungai, mencumbu jutaan anak tangga, bertahan melawan udara dingin, menyesuaikan diri dengan kadar oksigen yang kian hari kian menipis, dan tentunya bergulat habis-habisan dengan ratapan, rengekan & kemauan ego diri sendiri yang terus merong-rong namun berhasil kuatasi.
Menikmati setiap detik perjalanan itu penting. Memaknai nya sangat jauh lebih penting. Pada akhirnya kita menikmati hasilnya. Kemanapun kaki melangkah, di ketinggian berapapun, sejauh apapun, tak boleh lupa bersyukur terlahir sebagai manusia Indonesia. Namun ini belum tujuan utama. Karena tujuan utama sesungguhnya adalah kembali turun dan pulang dengan selamat. Selamat mendaki gunung dan jangan lupa utamakan keselamatan ya.

Pantang Marah Kepada Alam Karena Cuaca

kangen kabut! kangen ketinggian… ga peduli kaya gimana kondisinya di gunung, mau kabut, mau hujan, mau panas, mau dingin yah dinikmatin ajah…
karena setiap hal yg terjadi selalu punya cerita..

yah kalo ga mau kepanasan, kedinginan, atau kehujanan, yah jangan naik gunung hehehe. Hal – hal yang tidak bisa kita kontrol tersebut akan terjadi dan memiliki kemungkinan besar sekali untuk kejadian. Maka dari itu apapun cuacanya tetap bersyukur. Alam punya rencana yang indah dari setiap perjalanan hidup yang kita lewati loh jika bisa memetik hikmahnya.

“karena gunung, alam dan cuaca tidak butuh untuk dicaci maki, mereka ada bukan untuk dikeluhkan ~ mereka ada untuk berbagi dalam keseimbangan” .
*hayyooo siapa yg suka ngeluh di gunung dan maki-maki cuaca?

Waktu kemarin gue kesana, Tambora buat gue adalah gunung yg cukup bersih masih jarang ada sampah. Jalur pendakian dari Desa Pancasila pun tergolong mempunyai vegetasi yg padaaaattt banget.. rapet laahh..
bisa dibilang untuk mencapai ke satu pos dengan pos lainnya dibutuhkan waktu yg lama, krna jalur nya dataar dan panjaaaannngg bangett..

Kawasan kerajaan pacet, tumbuhan jelatang, buah berry, akan ditemuin disepanjang jalan.. hutannya juga masih bagus banget..

gue berharap saat perayaan letusan Tambora dgn targer peserta 15.000 orang selama sebulan ini (menurut info Pak Saiful) tidak merusak keindahan alam di Tambora.
Mohon dengan sangat, siapapun yg ikut ke Tambora, tolong bawa turun sampahnya lagi.. jangan rusak lagi gunung-gunung kami..

mohon jangan ada Vandalisme.. mohon untuk tidak merusak vegetasi Tambora.. biarkan mereka tetap bertumbuh dengan baik.. .
seorang Pendaki yang bijak, tau bagaimana cara memperlakukan alam nya.

gue melihat dunia melalui kacamata yg berbeda…
gue melihat hidup sebagai sebuah perjalanan…
gue melihat alam seperti rumah..
gue melihat waktu sebagai kesempatan..

dan gue menyimpulkan bahwa : “setiap perjalanan akan selalu mempunyai cerita yg berbeda, setiap waktu diberikan untuk menciptakan kesempatan untuk menjelajah setiap sudut alam, hingga nanti waktu berhenti dan saat nya “kembali pulang” ke pangkuan – alam”.